Gawe Nasional tinggal beberapa hari dilaksanakan. Hiruk pikuk perjalanan politik di indonesia dapat diamati dari dalam maupun luar negeri. Aku --meskipun dengan media seadanya-- juga ikut menjadi pengamat meskipun hanya dengan pengamatan yang sebatas. Sistem pemerintahan yang sedang digandrungi saat ini ialah Sistem Demokrasi, sedangkan Indonesia oleh sebagian orang dikatakan sebagai Negara yang paling demokrasi di dunia.
Saya rasa sebutan itu sangat layak untuk Indonesia. Bagaimana tidak, Amrik yang menjadi kiblat Demokrasi dunia aja belum pernah memiliki presiden wanita seperti Indonesia. Saking demokrasinya "Mencuri harta rakyat" milyaran bahkan trilyunan ripiah aja seakan-akan telah menjadi hak politik yang "legal" dan dilakukan hampir semua aparatur Negara, meskipun dengan nominal dan bentuk yang berbeda.
Saya diantara orang yang menganggap PEMILU kali ini sebagai suatu hal yang tidak terlalu penting. Saya sudah muak dengan semuanya. Saya lelah membicarakan mereka. Di sana saya melihat politikus yang justeru dapat memper-akut kondisi "sakit" yang saya derita. Lihat saja mereka....
~ SBY (Susilo Bambang Yudoyono). Sosok yang berani menjual negara demi kepentingan pribadi. Memang ia mampunyai penampilan elegan, memukau saat menyampaikan pidato dan orasinya. Tapi, lihat Blok Cepu, yang diberikan perusahaan AS Exxonmobil!. Kesalahan itu diulang dengan Lepasnya Blok Semai yang diberikan perusahaan AS Amerada-Hess!. Deal "take and give" yang ia peroleh ialah mendapatkan bantuan moral dan finansial demi tercapainya popularitas dan keuntungan pribadi. Padahal berapa kerugian yang diperoleh rakyak Indonesia untuk semua itu? Blok Cepu berpotensi kehilangan uang negara sebesar Rp. 1.700 Trilyun dan Blok Semai Rp. 900 Trilyun. Sepantasnya rakyat Indonesia marah!.
Memang SBY dikenal sebagai sosok yang memiliki sikap santun menghadapi hujatan-hujatan rival politiknya. Saking santunya iapun hanya wait and see disaat wilayah Indonesia digunakan pangkalan intelijen pihak asing meskipun tanpa diberikan hak campur tangan sedikitpun . Bagaimana bisa kita dilarang pihak lain untuk menggunakan hak monitoring di wilayah kita sendiri. Dimana harga diri bangsa kita? Pahit benar jadi orang Indonesia.
~ Megawati Sukarno Putri. Putri Proklamator Ir. Soekarno yang selalu membawa nama ayahnya kemanapaun dia pergi ini mempunyai ambisius yang tinggi. Tapi sayang tidak diimbangi dengan potensi diri. Semangatnya untuk kembali menjadi orang nomor 1 di Indonesia tidak ada yang meragukan. Sebenarnya apa sih yang dapat ia berikan ketika ia menjadi pimpinan negara, dulu?!
Justru saya melihat Megawati hanya sebagai sosok yang lebih mengedepankan arogansi. Orang yang mempunyai dendam-kesumat tinggi, kekanak-kanakan dan banyak bicara tapi tidak dapat bekerja. Ia tidak lebih sebagai "wayang kulit" yang bisa digeser kesana dan kemari sesuai skenario disebuah pertunjukan pewayangan. Bagaimana mungkin sebuah bangsa dipimpin orang semacam ini? Membawa dirinya sendiri aja harus dengan bantuan orang lain....
Bagaimana mungkin Sebuah bangsa dipimpin seseorang yang diawal kepemimpinannya menjadi Presiden justeru menangis disaat mendapati maraknya otokritik dan melihat demonstrasi para mahasiswa...
Bagaimana mungkin Sebuah bangsa dipimpin orang yang mempunyai basic kekanak-kanakan dengan selalu menunjukan sikap ambeg diri menghadapi realita politik yang tidak memberikan keuntungan padanya....
Bagaimana mungkin sebuah bangsa dipimpin orang semacam ini?....
~ Gus Dur (Abdul Rahman Wahid). Orang yang satu ini tergolong unik dan kontroversial. Keberaniannya dalam mengambil sebuah keputusan tidak dapat diragukan. Yang ada dalam peta hidupnya hanya membuat "onar" bumi Nusantara. Ia tidak akan membiarkan barang sebentar Indonesia dalam keadaan nyaman dan kondusif. "Keributan" yang ia ciptakan bukan hanya pada rival politiknya tapi juga orang-orang dekatnya. Mungkin dibenaknya politik atau kekuasaan hanya sebuah permainan yang seharusnya dipegang hanya dengan tertawa-tawa.
Mau jadi apa Negeri kita dipimpin orang berkarakter seperti ini?. Ngakunya sebagai golongan Pluralis --entah itu Pluralis Politik atau Pluralis Primordial-- tapi ia menggilas pendapat yang berseberangan. Menurut pengamatan saya ia tidak lebih dari Orde Baru. Sikapnya diktatorian dan otoritarian. Watak kepemimpinannya tidak ubahnya pemerintahan Orde Baru....
~ HNW (Hidayat Nur Wahid). dengan hidden agenda-nya...
~ Prabowo Subiyanto yang lebih identik Cendana Jilid II....
~D ...
~L ...
~L ...
Ada sisi lain yang tak kalah menyedihkan dan patut diperhatikan bahwa ternyata "Rakyat Indonesia adalah rakyat pelupa". Hari ini ada yang berbuat kesalahan besoknya lupa (atau mungkin pura-pura lupa). Kemarin jelas-jelas membuat kesalahan besar sekarang diagung-agungkan kembali. Apa nggak bunuh diri namanya?? Ya, memang sekarang lagi ngetrend "bunuh diri". Lihat saja analisis perolehan suara yang menjadikan "penjahat politik" masih bertengger di papan atas....
Yach, saya capek. Sebenarnya bukan hanya mereka yang membuat otakku penat. Untuk sementara kayaknya aku jadi penonton mereka aja.
Aku tau tidak memilih pada dasarnya berpotensi memberikan kesempatan "Politkus Busuk" untuk berkuasa. Tapi aku juga tau bahwa menggunakan hak pilihku justru "Politikus Busuk" juga yang berkuasa.
Jika keduanya mempunyai kecenderungan yang sama maka kali ini aku memilih untuk menjadi penonton aja, dengan harapan lebih hemat energi agar tidak terbuang dengan sia-sia. Wassalam.





2 komentar
Capex Dech...
Hmm....
Post a Comment