Sebagai Upaya Memperkaya Instropeksi diri.
Suatu ketika saya ngborol dengan saudara kandung yang berada di Indonesia lewat jaringan telephone. Seperti biasa tema pembicaraan tidak terfokus pada satu permasalahan. Apalagi obrolan tersebut memang berangkat dari perasaan kangen setelah lama tidak pernah ketemu. Setelah agak lama kami berbincang-bincang saudara saya melempar pertanyaan yang mempunyai korelasi dengan partai.
“Gimana suasana politik MASISIR (Mahasiswa Mesir)”? Tanya saudara saya.
“Yach, begitu lah. Setahu saya PKS yang paling mempunyai semangat tinggi dan yang paling menonjol dikalangan MASISIR” jawab saya.
“Iya ya, PKS patut kita jadikan contoh atas kesadaran berjuangnya yang sedemikian tinggi. Dimana-mana gerakan orang-orang yang berbau PKS tu sangat menakjubkan” Demikian pernyataan saudara saya menyikapi fenomena politik yang ada di PKS.
.
Kemudian saya tak urung menimpali apa yang telah dikemukakan saudara saya: “Iya, benar. Semua yang ada pada PKS tampak menarik dan mendapat tempat di hati masyarakat. Dari mulai system politik maupun ideology “tanpa pamrih” yang mereka gunakan” kata saya.
Memang harus diakui pergerakan yang diusung PKS sangat menarik dan mampu meraih simpati masyarakat. Mereka lebih memprioritaskan kwalitas daripada kwantitas, lebih memilih praktek daripada teori, memilih bekerja daripada sibuk bercerita, dst. Itulah kelebihan yang dimiliki oleh orang-orang PKS dan tidak dimiliki oleh partai politik lain.
Kemudian saudara saya meneruskan perbincangan: “laiya, memang ideology yang digunakan PKS seharusnya kita miliki, atas dasar perjuangan. La coba lihat, kita ini sibuk mengkritik partai politik tertentu sedangkan kita sendiri tidak mau bergerak apa-apa. Lak yo bohong namanya. Kalau udah gini siapa yang goblog coba?!!”.
“Hehehehe, sebenarnya kritik kita ini bukan sebagai sikap sentimentil terhadap partai politik tertentu. Pembicaraan kita kan dalam rangka menentukan sikap terhadap fenomena yang berkembang untuk dibenturkan dengan apa yang kita pikirkan. Semangat ya silahkan, itu bagus, asal sadar terhadap situasi dan kondisi “ kata saya sedikit bernada menyentil.
Memang saat itu pembicaraan yang menarik menurut kami adalah PKS yang dulunya bernama PK. Pembicaraan ini bukan berarti menempatkan kami pada posisi partai tertentu karena saya bukan simpatisan salah satu partai untuk saat ini. Obrolan ini lebih kepada pandangan terhadap system gerakannya dalam meraih simpati masyarakat yang menurut kami sangat menarik untuk amati.
“Kalau berbicara tentang “semangat” ya nggak ada yang bisa ngalahin kader PKS to?! Setiap ada musibah besar yang menimpa saudara-saudara kita siapa dulu kalau bukan kader-kader PKS, yang paling keliahatan di TV” kata saudara saya menimpali apa yang saya sampaikan.
“Hehehe, berpolitik adalah hak setiap individu warga Negara Indonesia. Begitu juga sebagai kader PKS. Mereka sah-sah saja menggunakan hak pilihannya dalam berpolitik. Tapi saya patut menyayangkan ulah kader PKS yang selalu membawa nama partai di kalangan MASISIR. Peraturan disini kan jelas bahwa pihak pemerintahan Mesir melarang keras beraktifitas politik. Di MASISIR banyak sekali organisasi, namun berbasis kemasyarakatan maupun organisasi almamater. Organisasi semacam ini kan jelas berbeda dengan PKS karena PKS adalah jelas organisasi politik. Jadi saya kurang sependapat terhadap apa yang dilakukan kader-kader PKS di sini.” Terang saya terhadap kondisi pemerintahan dan politik di Mesir.
Setelah mendengar cerita ini saudara sayapun tampaknya tertarik untuk mengangkat cerita yang barusan terajdi di lingkungannya: “Hehehe, dari awal kan udah saya katakan; berbicara masalah ideology “semangat menggebu-gebu” sekaligus “tanpa pamrih” itu kan nggak ada yang ngalahin PKS. Sampai saking semangatnya kemarin disini mereka ngasih kolak (semacam bubur) pada acara ibu-ibu aja pake bawa-bawa bendera segala. Kalau nggak “semangat” terus apa namanya??”
“Hahahahaha….” kami tertawa bersama setelah munculnya kata-kata ini. Sebelum tawa kami berhenti, saudara saya melanjutkan: “Laiya, ngasih minuman ya silahkan, tapi benderanya mbok ya di letakkan dulu, barang sebentar”.
Tidak menunggu lama saya-pun mengutarakan pendapat lain: “Lah, gimana mau suruh meletakkan bendera?? Dapetnya mereka kan dari bendera itu”. “Huahahaha…” lagi-lagi kami tertawa bersama.
Setelah keadaan aman terkendali, suara tawa dan pertanyaan belum juga terdengar, saudara saya melemparkan kritikan terhadap rival PKS: “Emang yang “goblog” itu kita sendiri, orang-orang NU, orang-orang Muhammadiyyah, ulama-ulama mereka, dll. Mereka tidak mempunyai apa yang dimiliki kader PKS. Mereka lebih memilih berteory daripada beraktualisasi. Seharusnya apa yang ada pada PKS juga harus kita miliki. Semangat juang yang tinggi tanpa memprioritaskan materiil yang bersifat pribadi. Kepentingan Ummat yang harus lebih dulu diprioritaskan”. Sepontan saya-pun mengatakan: “Ya, saya setuju.”.
Perbincangan kami yang sebenarnya berdurasi lumayan panjang, namun tidak penting saya tuliskan semua. Hanya saja point yang ingin diangkat dari bincang-bincang ini adalah betapa urgent-nya sebuah realisasi. Orang Indonesia telah mencapai tarap jenuh disuguhi teory dan janji. Yang mereka butuhkan ialah real. Bukti nyata, yang bisa secara langsung mereka rasakan. Secara psikologis, orang yang baik bukanlah orang yang dapat memberikan statement dengan baik dan menarik saja, namun orang baik ialah orang yang mampu memperlihatkan etika bersosial dengan baik meskipun secara praktis tidak dapat mengungkapkan kata-kata dengan baik. Wallahu a’lam.





0 komentar
Post a Comment