Beberapa kali mendengar dari teman bahwa shisha (rokok ala timur tengah) lebih berbahaya menurut medis daripada rokok masih saja kurang begitu percaya. Alasan yang paling dominan ialah karena shisha --yang sering saya hisap bersama teman-teman-- terbuat dari bahan alami seperti kulit apel, melon dan lain-lain yang pada dasarnya buah-buahan tersebut sangat banyak mengandung vitamin yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita.

Sebenarnya bahaya shisha tersebut --katanya-- telah sering diperingatkan di radia Mesir. Namun sayang selama ini hal itu sama sekali tidak pernah saya terdengar dengan secara langsung.

Merokok gaya pipa berair atau shisha sudah menjadi bagian dari gaya hidup penduduk kawasan Timur Tengah berabad-abad lamanya. Catatan menunjukkan kebiasaan itu ada sejak abad ke-16 di India. Kata shisha berasal dari bahasa Persia shisheh yang berarti gelas.

Sejarah shisha merentang dari bagian utara India yang masuk kawasan Persia atau kini dikenal dengan Iran. Tembakau mulanya digunakan untuk merokok bersama kelapa. Kemudian, kalangan atas Persia adalah orang-orang yang memberi penampilan shisha atau lazim disebut hookah seperti yang kita lihat sekarang.

Sejatinya, hookah dirancang untuk mengisap opium dan ganja. Hookah lalu berkelana dari kerajaan Persia ke bagian kekaisaran Persia lainnya, termasuk India, Pakistan, Afghanistan, sebagian Asia Tengah, dan bagian Arab di Afrika Utara.

Tapi, ada juga yang mengatakan adalah orang Turki yang melengkapi evolusi shisha. Evolusi yang membuat hingga kini bentuknya tidak berubah seperti yang biasa kita lihat selama beberapa ratus tahun terakhir. Di Turki, shisha atau nargile adalah bagian penting dari budaya kedai kopi. Mengisap shisha di Turki populer sejak masa pemerintah Murat IV pada tahun 1623 sampai 1640.

Dalam bahasa Arab klasik, shisha lebih dikenal dengan sebutan narghila. Sedangkan orang Lebanon, Suriah, Palestina, dan Yordania menyebut shisha dengan kata argileh. Di sana umumnya diisap setelah menyantap baklava atau kue-kue manis serta menyeruput teh beraroma daun mint.

Kurangi bahaya tembakau?
Pipa berair itu disebut-sebut diciptakan oleh seorang dokter kala pemerintahan Kaisar Akbar di Persia. Tujuannya untuk menghasilkan alat yang mengurangi dampak buruk tembakau. Sang dokter, Hakim Abul Fath, berujar merokok sebaiknya dilakukan lewat air yang ditaruh dalam wadah agar tembakau dalam rokok menjadi tidak seberbahaya biasanya.

Dari situ dimulailah mitos bahwa merokok dengan shisha jauh tidak seberbahaya merokok sigaret dan merokok dengan pipa. Namun, pada Mei 2007 Organisasi Kesehatan Dunia atau dikenal dengan WHO mematahkan mitos tersebut. WHO menegaskan merokok dengan pipa panjang dengan air di dalamnya justru lebih berbahaya dari merokok biasa. WHO mengatakan penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk mengaitkan penggunaan pipa berair itu dengan penyakit fatal yang mungkin ditimbulkannya.

Menurut WHO, merokok dengan alat hookah mengakibatkan perokok terpapar lebih banyak asap dalam waktu lebih panjang ketimbang merokok biasa. Merokok dengan hookah berarti dapat menghabiskan waktu sampai 80 menit. Maka, perokoknya menjadi subjek asap yang setara dengan orang yang merokok 100 batang sigaret.

Air dalam wadah juga tidak mengeluarkan seluruh kandungan racun rokok. Beberapa bagian dari nikotin tetap saja terserap. Tapi, mengisap tembakau ala shisha menjadi lebih berbahaya, karena perokoknya merokok lebih lama untuk merasakan sensasinya. Akibatnya asap lebih banyak terhirup. Asap mengandung karbon monoksida, kandungan metal, dan senyawa beracun, penyebab penyakit jantung dan paru-paru.

Pada dasarnya shisha memang diisap dengan tembakau. Tembakaunya diberi nama shisha tobacco yang dikenal dengan sebutan tobacco molasses. Di kawasan Timur Tengah tembakau shisha memiliki nama yang berbeda, tergantung asalnya. Seperti tobamel, ma'sal (Arab), tumbak (Turki), dan jurak (India).

Terkadang tembakau untuk shisha dicampur dengan ramuan herbal atau buah-buahan. Misalnya, vanila, kelapa, mawar, melati, madu, strowberi, semangka, mint, ceri, jeruk, aprikot, sampai campuran kopi, aroma permen karet, serta kola. Rasa yang paling digemari pengisap fanatik shisha di Timur Tengah adalah dobel apel.

Pada umumnya kandungan tembakau dalam tembakau beraroma untuk shisha mencapai 30 persen. Sisanya adalah rempah-rempah, buah, dan ramuan lainnya.

Kini, shisha yang dibakar tanpa kandungan tembakau sudah ada. Anda yang tertarik untuk menjajal asap dari Timur Tengah itu melalui pipa berair bisa meminta restoran atau kafe menyediakan shisha non-tembakau. Sebagai pengganti tembakau digunakan semacam tebu tanpa kandungan tembakau, nikotin, atau tar seluruh senyawa yang ditemukan dalam rokok.
Jenis shisha ini lalu dibuat sepenuhnya dalam berbagai rasa serta aroma. Tujuan pembuatan shisha yang 100 persen herbal dan non-tembakau adalah untuk menikmati sepenuhnya kenikmatan shisha tanpa khawatir dengan dampaknya terhadap kesehatan. Jadi, masih berminat ber-shisha ria?

2 komentar

Unknown said... @ August 15, 2009 at 1:02 AM

Wow hebat.. teringin nak hisap shisha herba..

My Other World said... @ September 29, 2009 at 11:26 PM

Yupz. Di Indonesia or Malaysia udah banyak kan? Tinggal cari di kota-kota besar. Hehehe..

Post a Comment